Semarang dan Demak – Mangrove Map. Dalam rangka memastikan keberlanjutan dan keberhasilan ekosistem mangrove hasil kegiatan rehabilitasi, Mangrove Map yang merupakan unit IKAMaT kembali melaksanakan riset dan pemantauan mangrove pada lokasi hasil rehabilitasi mangrove yang telah dilaksanakan beberapa tahun yang lalu. Riset dan pemantauan mangrove ini merupakan hasil kolaborasi dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). (8–9/7/2026).
Riset dan Pemantauan Mangrove Bersama WALHI di Semarang dan Demak

Proses pengambilan data parameter lingkungan di lokasi hasil rehabilitasi.
Kegiatan riset dan pemantauan mangrove dilaksanakan di kawasan rehabilitasi mangrove yang telah dilaksanakan oleh WALHI, yaitu di Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang dan Desa Bedono, Kabupaten Demak. Kegiatan riset dan pemantauan ini dilaksanakan untuk mengetahui kondisi vegetasi mangrove pada lokasi rehabilitasi.
Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan rehabilitasi serta perubahan kondisi ekosistem mangrove pada kedua lokasi. Hasil riset dan pemantauan tersebut selanjutnya diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan rekomendasi pengelolaan dan tindak lanjut guna mendukung keberlanjutan ekosistem mangrove.
Perwakilan Mangrove Map Dalam Riset dan Pemantauan Mangrove
Kegiatan riset dilaksanakan oleh Mangrove Map yang diwakili oleh Agape L. Anthoni (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) dan M. Ryan Setiawan (Staf Hubungan Masyarakat dan Lapangan) di mana riset dilaksanakan dalam jangka waktu dua hari untuk dua lokasi riset dan pemantauan.
Data yang diambil meliputi kondisi lingkungan, komposisi jenis mangrove, struktur vegetasi mangrove, analisis vegetasi mangrove, keanekaragaman vegetasi, dan evaluasi keberhasilan rehabilitasi, dan rekomendasi lanjutan terhadap hasil rehabilitasi yang telah dilaksanakan.

Proses pembuatan transek plot untuk riset dan analisis vegetasi.
Riset dan pemantauan hari pertama dilaksanakan di kawasan rehabilitasi di Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang, di mana lokasi ini dibagi menjadi empat stasiun yang tersebar di kawasan tersebut mewakili empat tahun berbeda.
Kemudian, riset di hari kedua dilaksanakan di kawasan Desa Bedono, Kabupaten Demak di mana stasiun penelitian tersebar menjadi tiga stasiun mewakili tiga lokasi rehabilitasi di tiga tahun berbeda.
“Pada hari pertama, kami melaksanakan kegiatan riset dan pemantauan di kawasan rehabilitasi Kelurahan Tambakrejo yang telah dilaksanakan oleh WALHI mulai tahun 2023 hingga 2026. Kemudian, pada hari kedua riset dan pemantauan dilaksanakan di kawasan rehabilitasi Desa Bedono, Kabupaten Demak yang merupakan lokasi rehabilitasi mulai tahun 2024 hingga 2026,” jelas Agape. “Harapannya hasil yang didapatkan dapat menjadi evaluasi dan rekomendasi untuk kegiatan rehabilitasi selanjutnya. Hasil ini juga dapat memberikan gambaran mengenai kebermanfaatan dan keberlanjutan dari hasil rehabilitasi yang telah dilaksanakan,” tambahnya.

Proses pengukuran diameter batang mangrove.
Kegiatan riset dan pemantauan mangrove yang dilaksanakan di Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang, dan Desa Bedono, Kabupaten Demak, diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekosistem mangrove hasil rehabilitasi yang telah dilaksanakan pada beberapa tahun sebelumnya.
Data yang diperoleh melalui kegiatan ini menjadi bagian penting dalam mengevaluasi perkembangan vegetasi mangrove serta keberhasilan rehabilitasi di masing-masing lokasi. Hasil riset dan pemantauan selanjutnya diharapkan dapat menjadi dasar dalam menyusun rekomendasi pengelolaan dan tindak lanjut rehabilitasi mangrove.
Riset dan Pemantauan Mangrove Sebagai Langkah Penting
Riset dan pemantauan mangrove menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa kegiatan rehabilitasi tidak berhenti pada tahap penanaman, tetapi terus dikawal melalui data lapangan yang terukur. Melalui kegiatan ini, Mangrove Map dan WALHI berupaya memperkuat praktik rehabilitasi mangrove yang lebih adaptif, berbasis evaluasi, serta berorientasi pada keberlanjutan ekosistem pesisir dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Kondisi bibit mangrove hasil rehabilitasi pada tahun 2025 di Tambakrejo, Kota Semarang.
Data yang diperoleh dari kegiatan riset dan pemantauan dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan struktur dan komposisi vegetasi mangrove di lokasi rehabilitasi. Informasi tersebut menjadi dasar penting untuk menilai kondisi ekosistem, melihat perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu, serta menyusun rekomendasi pengelolaan yang lebih tepat sesuai karakter masing-masing lokasi.
Melalui kolaborasi antara IKAMaT, Mangrove Map, dan WALHI, kegiatan riset dan pemantauan ini diharapkan dapat mendukung upaya pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan serta memastikan manfaat rehabilitasi dapat terus dirasakan oleh lingkungan dan masyarakat di sekitar lokasi. (ADM/ARH/ALA/AP).